TAFSIR SURAT AL-'ASHR

Tafsir Sayyid Quthb
            Dalam surat pendek yang terdiri dari tiga ayat ini tercermin manhaj (tatanan) yang lengkap tentang kehidupan ummat manusia sebagaimana yang dikehendaki islam. Di dalamnya juga tampak jelas rambu-rambu persepsi keimanan, dengan hakikatnya yang besar dan menyeluruh, dalam suatu gambaran yang paling jelas dan detil. Sesungguhnya surat ini meletakkan dustur islami seluruhnya dalam beberapa kalimat singkat, dan menggambarkan Ummat Muslim, hakikat dan tugasnya, dalam satu ayat yaitu ayat ketiga.[1] Jadi menurut Sayyid Quthb dalam surat ini dustur islam secara menyeluruh terletak dalam beberapa kalimat pada ayat tiga surat ini.
Hakikat besar yang diterapkan surat ini seluruhnya adalah:
            Sesungguhnya di sepanjang zaman dan pada semua generasi ummat manusia, di sana tidak ada kecuali satu manhaj yang beruntung, dan satu jalan yang selamat. Yaitu manhaj yang rumusan-rumusannya telah digariskan oleh surat ini. Sesungguhnya manhaj dan jalan keselamatan itu adalah iman, amal shalih, daling menasihati dalam mentaati kebenaran dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.[2] Beliau memaparkan dalam surat ini terdapat hakekat besar yang muncul, bahwasanya manhaj dan jalan yang paling selamat adalah orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan dalam menetapi kesabaran.
            Berdasarkan hal di atas beliau menjelaskan kandungan-kandungan yang terdapat dalam ayat ketiga menjadi empat bagian pentingyang terikat satu sama lain; iman, amal shalih, saling menasihati dalam kebaikan dan keburukan.
            Iman didefinisikan dengan karakter dan nilainya dalam kehidupan adalah kontak makhluk manusia yang fana, kecil dan terbatas ini dengan sumber yang bersifat mutlak, azali dan abadi yang darinya alam wujud ini berasal. Dari sinilah kemudian ia melakukan kontaknya dengan alam semesta yang berasal dari sumber yang sama, dengan hukum-hukum yang mengatur alam semesta ini, dan dengan kekuatan-kekuatan dan potensi-potensi yang tersimpan di dalamnya.[3] Iman menurut beliau adalah sebuah kontak antara makhluk dengan Maha Pencipta yang dariNya lah alam wujud ini berasal. Lebih lanjut beliau memaparkan bahwa berasaskan dari kontak denganNya ini maka makhluk melakukan kontak dengan alam semesta. Jadi pada dasarnya, manusia dalam melakukan segala sesuatunya didunia haruslah di dasari dengan keimanan kepada Allah SWT.
            Amal shalih adalah buah alami dari keimanan, dan gerak yang bermula pada detik di mana hakikat keimanan itu menghunjam di dalam hati. Maka keimanan adalah hakikat keimanan menghunjam di dalam nurani maka pada saat itu pula ia bergerak mengekspresikan dirinya di luar dalam bentuk amal shalih. Itulah iman islami. Jika tidak bisa melahirkan gerakan yang alami tersebut maka keimanan itu berarti palsu atau mati.[4] Dalam amal shalih beliau mengatakan bahwa amal shalih merupakan buah dari keimanan. Jadi apabila seseorang telah beriman dengan sebenar-benarnya maka yang dilakukan oleh orang itu adalah beramal shalih, maka itulah iman islami.
            Dari lafazh saling berpesan (tawashau), baik dari segi makna, tabi’at dan hakikatnya, muncul gambaran ummat yang saling menyatu dan saling berpadu. Ummat yang baik, sadar dan tegak di muka bumi di atas kebenaran, keadilan dan kebaikan. Demikianlah islam menginginkannya menjadi ummat yang baik, kuat, sadar dan tegak untuk menjaga kebenaran dan kebaikan, saling berpesan dengan kebenaran dan kesabaran dengan penuh kasih sayang, saling bekerja sama, saling bersaudara yang sepenuhnya mencerminkan kata tawashau (saling berpesan) yang ada dalam Al-Qur’an.[5] Saling berpesan di atas menurut beliau adalah untuk kata jama’ atau plural maka kata ini dikhususkan untuk ummat agar saling berpesan untuk mewujudkan ummat yang baik.
            Saling berpesan dengan kebenaran sangat diperlukan, karena melaksanakan kebenaran itu sangat sulit. Saling berpesan adalah mengingatkan, memotivasi, menyadarkan akan dekatnya tujuan dan sasaran, dan persaudaraan dalam memikul beban dan amanat. Ia berarti melipatgandakan sejumlah orientasi pribadi, ketika berinteraksi bersama lalu menjadi berlipat ganda. Agama ini (yaitu kebenaran) tidak bisa tegak kecuali dalam penjagaan jama’ah yang saling bekerja sama, saling berpesan, daling terpadu dan saling senasib sepenanggungan.[6] Dalam hal ini beliau memaparkan bahwa dalam melaksanakan kebenaran itu sulit dan diperlukanlah saling menasihati dalam kebenaran karena kebenaran tidak akan tegak kecuali dalam penjagan ummat yang saling menasihati.
            Berpesan dengan kesabaran juga sangat penting, karena tegak di atas landasan iman dan amal shalih, menjaga kebenaran dan keadilan itu termasuk hal paling sulit yang dihadapi individu dan jama’ah. Pasti diperlukan kesabaran. Pasti diperlukan sabar dalam jihad menghadapi hawa nafsu, jihad menghadapi orang lain. Sabar menghadapi gangguan dan kesulitan. Sabar menghadapi maraknya kebatilan dan kejahatan. Sabar menghadapi panjangnya jalan dan lambatnya tahapan. Berpesan dengan kesbaran bisa meningkatkan kemampuan, dengan sesuatu yang dapat membangkitkannya berupa perasaan akan kesatuan sasaran, kesatuan arah, kekompakan semua pihak dan pembekalan mereka dengan rasa cinta, tekad dan semangat. Jika tidak demikian, maka pasti terjadi kerugian dan kesia-siaan.[7] Beliau memaparkan dalam menajaga keimanan, amal sholeh serta menjaga keadilan dan kebenaran itu adalah hal yang paling sulit dilakukan individu maupun jama’ah. Oleh karenanya, saling menasihati dalam kesabaran sangat diperlukan. Menurut beliau dengan berpesan dengan kesabaran dapat merealisakikan sebuah ummat islami.



[1] Sayyid Quthb, Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an: Juz Amma, (Jakarta: Robbani Pers, 2003), hlm. 561-562.
[2] Ibid, hlm. 562.
[3] Ibid, hlm. 562-563.
[4] Ibid, hlm. 571.
[5] Ibid, hlm. 572.
[6] Ibid, hlm. 572-573.
[7] Ibid, hlm. 573.

Comments

Popular posts from this blog

PERTUMBUHAN EKONOMI MENURUT ABU FADHL JAFAR AD DIMASYQI

Pemberdayaan lembaga filantropi islam